Daftar RPU/Repeater ORARI, RAPI dan Umum di Sekitar Jakarta-Tangerang

Radio Pancar Ulang (RPU), atau juga dikenal dengan kata Repeater berfungsi untuk memperluas pancaran sebuah radio komunikasi. RPU/Repeater biasanya terletak di tempat yang tinggi, seperti gunung atau puncak gedung agar terbebas dari halangan. Pancaran dari tempat yang lebih rendah yang biasanya terhalang gedung atau gunung akan diterima oleh RPU/Repeater, lalu dipancarkan kembali.

Berikut ini catatan dari beberapa RPU/Repeater di frekuensi ORARI, RAPI dan yang diluar kedua organisasi tersebut. RPU/Repeater ini bisa dijangkau dari sekitar Jakarta-Tangerang, tentunya dengan menggunakan radio dan antenna yang sesuai.

Daftar RPU/Repeater ORARI

  • 146.640 MHz, Dup: -600, Tone: 88.5 – ORARI Lokal Kota Bogor, lokasi: Gunung Salak
  • 146.660 MHz, Dup: -600, Tone: 88.5 – ORARI Daerah Jakarta, lokasi: Gedung BNI 46
  • 146.700 MHz, Dup: -600, Tone: 88.5 – ORARI Lokal Jakarta Utara, lokasi: Apartemen Robinson
  • 146.720 MHz, Dup: -600, Tone: 88.5 – ORARI Daerah Jawa Barat, lokasi: Tangkuban Perahu
  • 146.740 MHz, Dup: -600, Tone: 88.5 – ORARI Lokal Tangerang, lokasi: Gunung Karang
  • 146.820 MHz, Dup: -600, Tone: 88.5 – ORARI Lokal Jakarta Pusat, lokasi: Jalan Gajah Mada
  • 146.900 MHz, Dup: -600, Tone: 88.5 – ORARI Lokal Kabupaten Bogor, lokasi: Pasir Sumbul, Puncak
  • 146.940 MHz, Dup: -600 – ORARI Lokal Tangerang Selatan, lokasi: Dekat Universitas Pamulang

Daftar RPU/Repeater RAPI

Dalam bencana banjir di awal tahun 2020, RPU RAPI ini aktif dalam koordinasi penyaluran bantuan dan update situasi daerah bencana

  • 142.020, Dup: +1500 – Pancar Ulang 1 (PACUL1)
  • 142.080, Dup: +1500 – Pancar Ulang RAPI DKI Jakarta
  • 142.960, Dup: -2000 – Panar Ulang RAPI Tangerang Selatan

Daftar RPU/Repeater Umum

RPU/Repeater umum ini berada diluar frekuensi ORARI dan RAPI. Bebas masuk asal sopan.

  • 141.110, Dup: -600, Tone: 123 – Pesona Suara Pantura, lokasi: Subang/Purwakarta
  • 140.310, Dup: -80, Tone: 88.5 – Komunitas RPU 031/Rakusser

Kalau ada yang perlu ditambah kurang silahkan diinfokan di komentar di bawah.

Terakhir diupdate: 11 Feb 2020

Panel Surya untuk Stasiun Cuaca dengan NodeMCU

Tertunda, namun tidak terlupakan. Begitulah kurang lebih kondisi Stasiun cuaca dengan NodeMCU, setelah update terakhir bulan Januari 2019 yang lalu. Hal ini disebabkan karena setelah percobaan dengan panel surya, ditemukan bahwa panel surya sebesar 2 watt tidak cukup untuk mengisi batere 18650 dalam kondisi normal sehari-hari.

Pencarian panjang pun dimulai untuk menemukan panel surya yang cukup kuat untuk mengisi batere 18650, sekaligus digunakan untuk sumber tenaga NodeMCU. Sempat terpikir untuk merangkai panel surya 1 watt secara paralel sebanyak 5 buah untuk mendapatkan daya maksimum 5 watt. Tapi, sebelum ide terlaksana, saya menemukan panel surya yang kira-kira cocok dengan kebutuhan: memiliki keluaran tegangan maksimum sekitar 6 volt dengan daya maksimum 5 watt. Ukuran panel surya ini kurang lebih selebar telapak tangan saya.

Panel Surya untuk NodeMCU dengan batere 18650

Merangkai Stasiun Cuaca

Setelah mendapatkan panel surya sebagai komponen terakhir, kini tiba saatnya untuk merakit stasiun cuaca. Sebagai kotak untuk melindungi stasiun cuaca, saya menggunakan kotak hitam berukuran 12.5 x 8.5 x 5 cm.

Keseluruhan rangkaian disusun di dalam box seperti pada foto di bawah ini.

Layout rangkaian stasiun cuaca dalam kotak

Agar sensor BME 280 bisa mengukur suhu, kelembaban dan tekanan dengan tepat, maka perlu dibuat lubang kecil. Lubang kecil juga perlu dibuat di atas TP4056 untuk jalur kabel menuju panel surya.

Tiap-tiap komponen sudah dijelaskan di bagian-bagian tersendiri sebagai berikut:

  • NodeMCU untuk stasiun cuaca, dibahas dalam artikel dalam tautan ini
  • TP4056 untuk mengisi batere Li-Ion, dibahas dalam artikel dalam tautan ini
  • 3.3V Low Drop Out (LDO) Voltage Regulator, untuk menyesuaikan tegangan batere Li-Ion menjadi 3.3V sesuai kebutuhan NodeMCU, dibahas dalam artikel dalam tautan ini.

Memasang Sensor Cuaca dan Panel Surya

Setelah semua komponen dirakit didalam kotak, stasiun cuaca siap dipasang dan dihubungkan dengan panel surya.

Pemasangan stasiun cuaca dan panel surya memiliki tantangan tersendiri. Agar pembacaan sensor suhu lebih akurat, stasiun cuaca harus diletakkan di tempat terbuka yang terhindar dari sinar matahari langsung, bisa dilewati angin, dan tidak boleh terlalu dekat dengan tanah. Hal ini bertentangan dengan panel surya yang justru membutuhkan sinar matahari langsung sebanyak mungkin.

Untuk itu, sebagai lokasi stasiun cuaca, saya memilih menempelkan box dibawah plafon di teras depan lantai 2. Plafon ini berjarak cukup jauh, sekitar 2 meter dari lantai, dan terlindung dari sinar matahari langsung.

Stasiun cuaca YD0SPU-13, dipasang di bawah plafon dengan menggunakan double tape

Panel surya yang membutuhkan sinar matahari langsung dipasang di atas atap rumah. Untuk menghubungkan panel surya dan stasiun cuaca, saya menggunakan kabel tembaga bekas kabel telepon sepanjang 2 meter.

Panel surya dipasang di atas atap. Di latar belakang terlihat panel surya 50 watt yang sudah lebih dulu terpasang untuk keperluan lain

Performance

Untuk menutup artikel ini, saya akan membagikan performa stasiun cuaca selama 2 hari terpasang.

  • Hasil pengukuran stasiun cuaca dengan diletakkan di bawah plafon cukup akurat. Dengan terlindung dari sinar matahari langsung, maka suhu yang ditunjukkan stasiun cuaca juga tidak terlalu tinggi dan lebih akurat. Hasil pengukuran bisa dilihat di tautan ini
  • Dalam kondisi setengah mendung, batere Li-Ion sudah terisi penuh sekitar jam 12 siang
  • Pengukuran tegangan acak di siang hari menunjukkan tegangan panel surya antara 6-7 volt.

Selamat mencoba. Semoga semakin banyak stasiun cuaca amatir di Indonesia untuk membantu perkiraan cuaca.

Bikin Sendiri Antena Moxon untuk Komunikasi Satelit

Antena Moxon adalah sebuah antena direksional yang berbentuk persegi panjang. Sifat direksional antena Moxon sama dengan antena Yagi. Akan tetapi, karena ujung-ujung dari antena Moxon ini dilipat, maka antena ini lebih kecil dari antena Yagi, sehingga menjadi favorit untuk antena komunikasi portable.

Karena bentuknya yang kecil dan portable, antena Moxon ini lalu dimodifikasi oleh penggiat radio amatir untuk digunakan sebagai antena komunikasi portable melalui satelit LAPAN-A2 (IO-86). Modifikasi ini dilakukan untuk memenuhi persyaratan komunikasi suara melalui Voice Repeater (VR) IO-86:

  • Effisiensi untuk memancar dengan baik di frekuensi uplink Voice Repeater IO-86: 145.880 MHz
  • Cukup sensitif untuk menerima dengan baik di frekuensi downlink Voice Repeater IO-86: 435.880 MHz ± 10 KHz
  • Tetap mudah dibawa-bawah (portable) sehingga bisa digunakan untuk komunikasi penanganan bencana, acara seperti IOTA, JOTA dan pendidikan satelit
  • Mudah dibuat dari bahan-bahan yang bisa ditemukan sehari-hari, dan tidak terlalu mahal

Kedua diagram di bawah ini adalah hasil dari modifikasi antena Moxon untuk memenuhi kebutuhan komunikasi satelit IO-86. Di sebelah kiri adalah versi panjang dari antena Moxon modifikasi, sedangkan di sebelah kanan adalah versi yang lebih pendek untuk menunjang mobilitas yang lebih tinggi.

Modifikasi antena Moxon untuk komunikasi satelit IO-86

Kedua antena hasil modifikasi memang merupakan gabungan antara antena Moxon dan antena Yagi. Oleh karena itu antena ini kadang suka disebut sebagai antena MoxonYagi. Bagian Moxon untuk memancar di 145.880, sedangkan bagian Yagi untuk menerima di 435.880.

Antena yang saya buat adalah ukuran yang lebih kecil. Dalam gambar di atas adalah gambar yang sebelah kanan. Pertimbangan saya adalah supaya antena ini mudah dimasukkan kedalam mobil, dan ringan untuk dipegang dengan tangan tanpa penyangga.

Antena MoxonYagi untuk IO-86 versi pendek

Bahan-bahan yang dibutuhkan kebetulan sudah ada di rumah, sehingga memang sesuai prinsip kalau antena MoxonYagi ini cukup murah. Berikut adalah bahan-bahan yang saya gunakan dan sumbernya:

  1. Kawat untuk antena sepanjang kurang lebih 3 meter. Kawat yang saya gunakan adalah kawat sisa yang ditemukan di gudang, dengan diameter kurang lebih 3 mm. Bisa juga menggunakan tembaga atau alumunium dengan diameter 2mm.
  2. Pipa 1″ sepanjang meter sebagai poros tengah antena. Pipa ini juga bahan sisa pembuatan antena sebelumnya. Kalau tidak punya pipa 1″, bisa juga menggunakan pipa 1/2″ atau pipa untuk kabel listrik. Panjang yang disarankan minimal 80 cm.
  3. Kabel RG58 dengan panjang secukupnya. Ini juga sisa bahan pembuatan antena sebelumnya.
  4. Konektor sesuai perangkat HT yang digunakan. Saya menggunakan konektor BNC, karena ya lagi-lagi yang ada di kotak perkakas cuma konektor BNC. Untuk disambungkan ke HT Baofeng, sayang menggunakan konverter BNC to SMA Female
Material kawat 3mm untuk bahan antenan MoxonYagi

Selain material di atas, dibutuhkan juga peralatan standar untuk memotong kawat, solder dan bor untuk pipa. Berikut ini proses pembuatannya.

Potongan kawat untuk pipa dipotong sesuai dengan ukurang yang dibutuhkan
Kawat nomor 3 dipotong tepat ditengah dan dipasang skun, untuk sambungan kabel feeder.
Pipa dilubangi di sisi kiri dan kanan sehingga elemen MoxonYagi bisa dimasukkan. Elemen di sisi kiri dan kanan berhubungan di dalam pipa, kecuali elemen ketiga, dipasang sesuai dengan gambar kecil di sisi kiri atas
Selanjutnya tinggal menekuk sisi kiri dan kanan elemen panjang sesuai ukurannya. Di sisi kiri dan kanan terdapat celah selebar 14 mm. Untuk memperkokoh celah, letakkan potongan kayu atau bahan non-metal lainnya sepanjang 14 mm, lalu rekatkan dengan solasi. Elemen lainnya juga bisa diperkokoh dengan menggunakan lem/glue gun. Jangan lupa juga kabel BNC diamankan dengan cable ties.

Setelah antena selesai, selanjutnya tinggal menunggu jadwal Voice Repeater dari IO86. Pertama-tama mungkin cukup sulit untuk mengarahkan antena MoxonYagi ini mengikuti arah satelit. Jangan lupa sambil mengarahkan, antena ini juga diputar untuk mendapatkan penerimaan yang paling baik.

Selamat mencoba komunikasi via satelit. See you on IO86

Gear Review: Minirig Asimoton AS-9900

Buat saya, nama minirig di seputar radio dua arah selalu identik dengan radio kecil buatan China dengan tombol orange 8 buah dan display yang bisa berganti warna. Hal ini lebih karena tidak ada identitas lain yang bisa dipakai untuk menamai radio komunikasi ini. Sepertinya siapapun yang berminat bisa memesan di pabriknya di China, lalu tinggal ditempelkan merk dan model seperti pesanan.

Rig mini yang saya review kali ini datang dengan label Asimoton, dengan model AS-9900. Sesuai namanya, rig ini berukuran mini, kurang lebih hanya sebesar telapak tangan saya. Tapi, meskipun kemasannya kecil, minirig Asimoton AS-9900 mampu memancarkan daya 25 watt di VHF, dan 20 watt UHF. Radio ini juga sudah mendukung fungsi-fungsi standar seperti transmisi duplex, CTCSS, DCS, dan dilengkapi dengan 200 memory. Dan yang terakhir, radio ini memiliki kemampuan dual monitor.

Minirig dengan ukuran yang cukup kecil, tidak makan tempat di dalam mobil.

Di dalam kotak yang saya terima, selain radio juga terdapat external microphone yang dilengkapi full keypad untuk operasional radio, bracket radio, gantungan mic, satu set baut, dan kabel DC. Kabel DC yang disertakan sudah terpasang plug untuk colokan 12 volt mobil.

Cukup fantastis, mengingat ukurannya yang kecil, dengan harga yang tidak sampai 1 juta rupiah.

Ukuran minirig Asimoton AS-9900, muat di telapak tangan

Lalu, bagaimana kesan-kesan setelah menggunakan radio ini selama 3 bulan? Apakah memang kemampuannya se-fantastis spesifikasinya? Secara singkat, berikut hal-hal yang saya suka dari minirig ini.

  • Ukurannya yang kecil dan ringan, sehingga mempermudah pemasangan di dalam mobil. Cukup menggunakan double tape 3M, minirig sudah terpasang cukup kokoh, tanpa menggangu kaki
  • Harga yang paling murah untuk rig dual band
  • Suara yang cukup kencang dan bersih.
  • Sensitifitas penerimaan yang cukup baik

Sedangkan hal-hal yang rasanya perlu diperbaiki adalah:

  • Display yang kecil, sehingga cukup sulit untuk dilihat sambil berkendara. Memang display ini harus menyesuaikan dengan ukuran rig yang cukup kecil
  • Semua setting harus diakses melalui menu, bahkan setting yang sederhana seperti mengubah daya transmisi. Digabungkan dengan display yang kecil, hal ini mempersulit perubahan konfigurasi di saat berkendara.
  • Keterbatasan buku manual penggunaan. Sama seperti radio merk China lainnya, manual book yang disediakan dalam kemasan cukup terbatas. Tapi jangan khawatir, tinggal meluncur ke dunia maya untuk mencari informasi, karena pengguna mmini rig ini cukup banyak

Berikutnya adalah beberapa kesan dan catatan saya selama menggunakan radio minirig Asimoton AS-9900

Kabel DC untuk Cigarette Lighter

Salah satu aksesoris yang cukup unik dalam kemasan minirig Asimoton AS-9900 adalah kabel DC yang sudah terpasang colokan 12 volt mobil. Colokan ini bisa disambung di cigarette lighter dalam mobil, sehingga untuk sekilas pemasangan rig di mobil jadi tidak terlalu rumit. Namun, saya memutuskan untuk tidak menggunakan cigarette lighter ini, dengan alasan berikut:

  • Kabel yang disertakan terlalu kecil. Memang rig ini hanya memiliki daya maksimum 25 watt, sehingga arus yang dibutuhkan mungkin hanya sekitar 3-3.5 ampere max. Tapi kecurigaan saya terbukti ketika seorang teman yang memiliki rig dengan tipe yang sama melaporkan kalau kabel powernya terasa panas dan putus ditengah komunikasi.
  • Untuk keperluan radio saya memilih kabel langsung dari aki mobil, agar arus yang ditarik radio tidak mempengaruhi komponen mobil lainnya, atau sebaliknya.
Kabel DC yang disertakan dengan colokan untuk cigarette lighter mobil

Memang, menarik kabel langsung dari aki lebih repot. Tapi toh kita juga harus menarik kabel untuk antena. Lagipula, dengan menarik kabel dari aki langsung akan mempermudah apabila kita akan mengganti dengan radio lain di masa mendatang.

Extra Mic Asimoton AS-9900

Minirig Asimoton AS-9900 datang dengan extramic dengan full keypad yang menyala untuk angka dan beberapa fungsi. Extramic ini dilengkapi dengan kabel spiral untuk menghubungkan dengan unit radio.

Extra mic Asimoton AS-9900

Extramic ini menurut saya terlalu kecil dan ringan. Apaalagi untuk yang terbiasa menggunakan rig buatan Jepang. Bukan sebuah gangguan, tapi hanya soal kebiasaan.

Hal kedua yang saya amati adalah kelengkapan tombol di extramic. Tombol-tombol di extramic ini bisa dipakai untuk mengakses menu, dan melakukan program frekuensi. Tapi ada beberapa tombol yang apabila ditambahkan di extramic akan sangat membantu. Tombol itu adalah V/M untuk merubah dari VFO ke mode memory, dan H/L, untuk mengubah daya pancaran dari tinggi ke rendah dan sebaliknya.

Selain itu, extramic ini cukup baik. Suara yang dihasilnya juga cukup jelas didengar oleh lawan bicara.

Kemampuan Radio

Dalam spesifikasinya tertulis kalau radio ini mampu memancarkan sinyal dengan maksimum daya maksimum 25 watt untuk VHF dan 20 watt di UHF. Daya pancar itu adalah untuk setting High, sedangkan di setting Low, daya pancar adalah 5 watt di VHF dan UHF.

Spesifikasi daya pancar dan jangkauan frekuensi

Pada percobaan di rumah dengan menggunakan power supply 13.8 volt, daya pancar maksimum berbeda-beda di sepanjang band VHF dan UHF. Daya pancar yang tercatat maksimum mendekati 25 watt untuk VHF dan 20 watt untuk UHF.

Daya pancar di setting low apabila saya bandingkan dengan HT Baofeng tidak jauh berbeda. Dengan terhubung dengan antena luar di rumah, saya bisa membuka RPU yang juga biasanya bisa saya buka dengan HT Baofeng apabila dihubungkan dengan antena luar.

Selama pemakaian dalam kendaraan, dengan setting power low saya bisa membuka beberapa RPU di Jakarta dan Tangerang sembari berkendara disekitar Pamulang.

Dari sisi penerimaan, sensitifitas cukup baik. Bahkan, kadang terlalu baik sehingga squelch kadang terbuka untuk level noise yang wajar. Disini kendala yang saya temui adalah setting sequelch yang sepertinya tidak berpengaruh terhadap sensitifitas penerimaan.

Hal terakhir mengenai radio ini adalah panas ketika kita memancar cukup sering. Hal ini makin terasa apabila kita memancar dengan setting high. Beberapa model minirig China dilengkapi dengan kipas kecil, seperti Asimoton AS-9900. Tapi ada juga yang tidak dilengkapi kipas.

Kipas pendingin, konektor PL untuk antena, dan colokan 3,5 mm untuk programming melalui komputer.

Kipas radio Asimoton AS-9900 ini cukup berisik. Dan pengalaman saya, kipas ini juga akan menyala kalau kita cukup sering memancar, meskipun hanya menggunakan daya 5 watt. Untungnya speaker dari minirig ini cukup nyaring. Cukup memutar sedikit kenop volume maka suara sudah didengar dengan volume yang cukup nyaman didengar untuk didalam mobil.

Demikian catatan saya untuk minirig Asimoton AS-9900. Meskipun ada beberapa kekurangan, dengan harga 1 juta saya cukup puas dengan pemakaian di dalam mobil. Kemampuan dual monitor bisa saya gunakan untuk monitor dua frekuensi RPU, atau frekuensi lalu lintas. Komunikasi radio pun tetap lancar untuk penggunaan konvoi ataupun sekedar ngobrol antar sesama pengguna radio.

Rekor Antena Flowerpot 2m: 26 km

Antena base station yang dinamai flower pot (Pot Bunga) ini dipopulerkan oleh seorang Amatir Radio asal Australia bernama John dengan callsign VK2ZOI. John membagikan cara membuat antena Flower Pot untuk frekuensi VHF di tautan ini.

Antena Flower Pot dari VK2ZOI saat ini masih menjadi antena utama dari base station amatir saya. Awalnya saya mencari cara membuat antena 2 meter untuk base station, yang cukup simple, dengan bahan yang mudah didapat, dan harga yang bersahabat. Antena flower pot ini memenuhi semua kriteria di atas. Antena ini bis dibuat dengan modal kurang dari 100 ribu. Bahkan bisa lebih murah kalau kita sudah memiliki sebagian bahan sisa bangunan, seperti pipa PVC. Instruksi untuk membuat antena Flowerpot pernah saya bagikan di tautan ini.

Antena Flowerpot 2m Terpasang Di Tiang

Sejak terpasang, efisiensi antena flowerpot ini terus membuat saya kagum. Terutama, karena antena ini terbuat dari bahan-bahan sederhana yang bisa dengan mudah ditemui. Waktu yang diperlukan juga tidak banyak, hanya sekitar 1 jam.

Beberapa hari yang lalu antena Flowerpot ini baru membuat rekor baru. Hanya dengan daya 5 watt, saya bisa berkomunikasi direct/simplex dengan seorang Amatir Radio di Kelapa Gading bernama Wahyu, dengan callsign YG0GLE.

QSO Pamulang-Kelapa Gading dengan Flowerpot Antena. Jarak sekitar 26 km lebih. Confirmed with YG0GLE

Apabila diukur melalui Google Map, jarak komunikasi ini adalah 26 kilometer lebih. Komunikasi ini juga melalui area pusat kota Jakarta di sekitar Gatot Subroto, yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit.

Report penerimaan komunikasi dengan daya 5 watt ini cukup bersih dari kedua sisi. Komunikasi baru sedikit terganggu oleh noise ketika daya diturunkan menjadi 3 watt. Rig yang digunakan oleh saya adalah Alinco DR-135 MKIII, sedangkan YG0GLE menggunakan rig Motorola GM 338.

Jadi, untuk yang masih bingung mau pakai antena 2 meter seperti apa, ayo segera dibuat antena Flowerpot 2 meter ini.

73 de YD0SPU

Ganti Final Minirig

Mengganti MOSFET Final Minirig dual band ini sebenarnya sebuah pekerjaan yang cukup rumit. Kerumitan ini pertama karena sesuai namanya, Minirig dual band ini berukuran kecil, sehingga jarak antar komponen cukup rapat. Kedua, karena MOSFET Final Minirig menggunakan MOSFET A5M06 yang berukuran kecil, dipasang dengan teknik SMD.

Namun demikian, penggantian MOSFET Final Minirig bukanlah tidak mungkin. Diperlukan peralatan yang tepat, ketelitian dan kesabaran agar penggantian berhasil. Dari sisi peralatan, selain obeng dan solder, juga diperlukan pinset dan solder uap untuk melepas dan memasang komponen SMD.

MOSFET Final Miniri bisa dicapai dengan membuka casing dari bagian bawah, yang terbuat dari plastik. Casing ini bisa dibuka dengan melepas 4 buah baut. Salah satu baut ini terletak dibawah stiker spesifikasi rig.

Sekrup yang di kiri atas terletak dibawah stiker

Setelah casing bawah dilepas, maka akan terlihat main board dari Minirig. MOSFET Final A5M06 terletak di bagian belakang, di antara kabel catu daya dan colokan antena. Final ini dijepit ke heatsink dengan menggunakan sebuah lempengan besi.

Dibawah heatsink terdapat MOSFET A5M06 yang berfungsi sebagai Final Radio

Karena MOSFET A5M06 Minirig terpasang diatas, sesaat terlihat memungkinkan untuk mengganti MOSFET tanpa kerumitan untuk melepas mainboard. Akan tetapi sangat disarankan untuk melepas main board dari heatsink. Selain untuk mendapatkan tempat yang lebih leluasa, heatsink juga akan menyerap panas solder apabila tidak dilepaskan.

Untuk melepaskan main board dari heatsink, ada beberapa titik solder yang harus dilepas, seperti di gambar di bawah ini. Setelah melepas titik solder, kabel pita yang terhubung dengan LCD juga harus dilepas. Terakhir, ada 9 baut yang juga perlu dilepas, sebelum main board bisa diangkat. Harap diangkat dengan hati-hati, karena ada pengeras suara yang terpasang dibalik main board.

Ada 9 posisi baut, 4 titik solder dan 1 kabel pita yang harus dilepaskan untuk memisahkan main board dari casing. Disarankan unuk membuka baut kipas untuk membuat pekerjaan lebih mudah
Setelah semua titik baut, solder dan kabel pita dilepaskan, main board siap diangkat. Dalam gambar ini saya mencoba tanpa melepaskan kabel kipas. Tapi ternyata cukup sulit untuk memasang final
Di bawah main board terdepat pengeras suara. Dibanding melepaskan solder pengeras suara, saya memilih melepas pengeras suara dari casing rig.
Setelah kabel kipas dan pengeras suara dilepaskan, main board sudah terpisah dengan casing rig. Final siap diganti

Setelah main board bisa dilepaskan dari heat sink, maka waktunya beralih ke solder uap untuk melepaskan MOSFET A5M06. Siapkan juga pinset untuk mengangkat MOSFET lama, dan memasang MOSFET baru. Untuk jelasnya bisa memperhatikan video di bawah ini.

Setelah MOSFET Final yang lama dilepas, MOSFET pengganti siap dipasang

Setelah MOSFET Final A5M06 yang baru sudah terpasang dengan baik, maka ikuti langkah yang sama untuk memasang kembali main board ke dalam heatsink, dan merakit mini rig seperti semula. Minirig pun siap dicoba.

Seluruh pekerjaan untuk pemula seperti saya memakan waktu sekitar 60-90 menit. Sedangkan MOSFET Final A5M06 bisa didapatkan melalui Aliexpress atau Tokopedia/Bukalapak.

Selamat mencoba. 73 de YD0SPU

Ujian Negara Amatir Radio (UNAR) Jakarta 2019

Ujian Negara Amatir Radio (UNAR) 2019 di Jakarta akan kembali diadakan tanggal 30 Juni 2019. Kali ini saya tidak ikut ujian, namun diminta beberapa teman baru di ORARI untuk membantu beberapa calon penggiat radio amatir untuk melakukan pendaftaran UNAR.

UNAR sendiri akan dilaksanakan pada:

  • Hari & Tanggal: Minggu 30 Juni 2019
  • Jam: 07:00 – Selesai
  • Lokasi: Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat (Lokasi Google Map)

Sebelum pelaksanaan UNAR, ORARI Daerah Jakarta akan melaksanakan Bimbingan UNAR (BUNAR) pada:

  • Hari & Tanggal: Sabtu 22 Juni 2019
  • Jam: 09:00 – 15:00
  • Lokasi: ORARI Daerah Jakarta, Gd. Prasada Sasana Karya Lt. 10, Jalan Suryopranoto No. 8, Jakarta Pusat (Lokasi Google Map)

Lalu bagaimana tahapan pendaftaran UNAR dan BUNAR? Dari diskusi dengan beberapa teman, dan mencari informasi untuk membantu calon peserta ujian, berikut garis besar proses pendaftaran Ujian Negara Amatir Radio (UNAR)

  1. Pendaftaran Ujian: Online via https://iar-ikrap.postel.go.id/. Harap menggunakan situs tersebut melalui komputer/laptop
  2. Syarat pendaftaran: memiliki email yang masih aktif, soft copy foto latar belakang merah dan soft copy KTP
  3. Apabila belum memiliki akun, lakukan pendaftaran akun di situs https://iar-ikrap.postel.go.id/
  4. Setelah melakukan pendaftaran akun, periksa email dari SDPPI untuk aktivasi akun. Klik tautan dalam email untuk aktivasi akun.
  5. Lanjutkan dengan masuk ke situs https://iar-ikrap.postel.go.id/ dengan akun yang sudah diaktifkan di langkah ke-4.
  6. Pilih Pendaftaran UNAR. Masukkan informasi yang dibutuhkan seperti nama, alamat, dan lain-lain. Jangan lupa untuk mengunggah pas foto berlatar belakang merah dan scan KTP.
  7. Tunggu verifikasi dari SDPPI selesai. Setelah itu akan mendapatkan invoice
  8. Biaya ujian 50 ribu dibayar via bank mandiri atau bni setelah mendapatkan invoice. Pembayaran bisa dilakukan melalui internet banking, ATM atau teller.
  9. Unduh kartu peserta ujian dari situs https://iar-ikrap.postel.go.id/ setelah pembayaran selesai. Kartu ini harus dicetak dan dibawa saat ujian.
  10. Apabila ingin mengikuti Bimbingan UNAR (BUNAR), bisa mendaftar langsung dengan menghubungi Ibu Rose di Whatsapp 085880010001 di hari kerja jam 14:00 – 21:00.

Bimbingan UNAR dilaksanakan oleh ORARI Daerah Jakarta (ODJ) untuk membantu peserta agar bisa lulus ujian. Bimbingan ini sifatnya opsional. Jadi boleh saja belajar sendiri dan tidak mengikuti BUNAR. Dan apabila sudah mengikuti BUNAR juga bukan berarti sudah pasti lulus. Kalau waktu ujian isinya asal-asalan, ya gak lulus juga.

Pengalaman saya pribadi, ikut BUNAR sangat membantu untuk lulus Ujian Negara Amatir Radio (UNAR). Dalam bimbingan dibahsa kisi-kisi soal yang sering ditanyakan, dan juga bank soal UNAR. Juga, dalam BUNAR kita dapat kesempatan untuk kenalan dengan sesama peserta ujian maupun anggota ORARI lainnya.

Ikut bimbingan atau tidak, selaamt belajar, dan semoga lulus.

73 de YD0SPU

Pertanyaan Seputar FRS/GMRS

Perangkat FRS Merk WLN Tipe KD-C1.

Apa itu FRS/GMRS?

FRS adalah singkatan dari Family Radio Service. GMRS adalah singkatan dari General Mobile Radio Service. Kedua layanan ini adalah kategori untuk penggunaan radio komunikasi bergerak (biasanya HT) yang berasal dari Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, FRS dan GMRS memiliki alokasi frekuensi UHF di sekitar 462 MHz dan 467 MHz. Meskipun memiliki alokasi frekuensi yang sama, layanan FRS dan GMRS memiliki perbedaan sebagai berikut:

  • Penggunaan FRS tidak memerlukan ijin, sedangkan penggunaan GMRS memerlukan ijin. Ijin GMRS bisa didapatkan melalui daring, tanpa memerlukan ujian
  • FRS memiliki daya maksimum lebih kecil daripada GMRS
  • Meskipun sama-sama memiliki alokasi frekuensi di sekitar 462 MHz dan 467 MHz, GMRS memiliki alokasi frekuensi yang lebih besar dari FRS

Bagaimana Perijinan FRS dan GMRS di Indonesia

Menurut peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (PERMEN KOMINFO) nomor 25 tahun 2014, alokasi frekuensi FRS dan GMRS di sekitar 462 MHz dan 467 MHz adalah alokasi untuk penggunaan komersial. Artinya, sebelum kita bisa menggunakan perangkat FRS & GMRS, kita harus lebih dulu memiliki Ijin Spektrum Frekuensi Radio.

Tanpa memiliki ijin ini, maka penggunaan perangkat yang memancar di frekuensi FRS & GMRS adalah ilegal.

Kalau Begitu Kenapa Perangkat FRS/GMRS Masih Dijual Bebas

Secara teori, walaupun penggunaan perangkat pemancar yang memancar di frekuensi FRS & GMRS adalah ilegal, menjual perangkat tersebut belum tentu perbuatan yang ilegal.

Setiap perangkat telekomunikasi yang dijual di Indonesia secara hukum wajib memiliki sertifikasi dari Kementrian KOMINFO. Jadi, kalau perangkat tersebut memiliki sertifikasi dari Kementrian KOMINFO, penjualan perangkat komunikasi tersebut tidak ilegal.

Bagaimana dengan pembelinya? Saat ini tidak ada peraturan yang menyatakan bahwa membeli dan memiliki perangkat telekomunikasi yang memiliki sertifikasi dan dijual secara sah sebagai tindakan ilegal. Jadi, sepertinya siapapun boleh membeli dan memiliki perangkat FRS & GMRS apabila perangkat tersebut memiliki sertifikasi Kementrian KOMINFO. Yang tidak boleh adalah mengoperasikan perangkat tersebut dengan memancar di frekuensi FRS/GMRS

Analoginya, setiap orang bisa membeli mobil tanpa harus memiliki SIM. Tapi mengendarai mobil tanpa memiliki SIM adalah tindakan ilegal.

Menambah Jangkauan Pancaran Radio Komunikasi

“Powernya kurang nih, jadinya pancaran saya gak sampai”

Omongan di atas sering terdengar ketika sebuah pancaran radio gagal diterima di tujuan. Kekurangan power atau daya pancar selalu menjadi kambing hitam kalau sebuah pancaran radio komunikasi gagal diterima oleh lawan bicara.

Eits, tapi sebelum buru-buru meningkatkan daya pancar, coba diperhatikan dulu keseluruhan komponen dari sistem mulai dari radio hingga antena. Apakah keseluruhan sistem ini sudah efisien? Kalau tidak, maka tambahan daya pancar ini hanya akan terbuang sebagai panas, entah di sisi radio, atau antena.

Ketika sedang membuat antena Pot Bunga (Flowerpot) saya sudah membuktikan kalau dengan daya pancar sebesar 5 watt dari HT, pancaran bisa diterima dengan sempurna oleh Radio Pancar Ulang (RPU/Repeater) dengan jarak 18.4 km. Pembuatan antena tersebut bisa ditemukan di tulisan dalam tautan ini.

Dalam QSO selanjutnya, pancaran dengan daya 5 watt bisa menjangkau Radio Pancar Ulang (Repeater) ORARI Jakarta Utara sejauh 23 kilometer dari tempat saya memancar.

Menjangkau Radio Pancar Ulang (RPU) 670, sejauh 23 km dari Pamulang

Jadi, kalau dengan daya pancar hanya 5 watt bisa menjangkau 23 kilometer lebih, tentunya daya pancar yang tinggi bukan satu-satunya cara untuk memperluas daya pancar. Masih ada faktor-faktor lain selain daya pancar untuk memperluas jangkauan pacaran.

Berikut adalah hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk memperluas jangkauan pancar, selain meningkatkan daya pancaran:

  • Gunakan kabel feeder/transmisi dari rig ke antena dengan panjang secukupnya. Semakin panjang kabel feeder/transmisi, semakin banyak daya yang hilang (attenuation) di kabel.
  • Gunakan kabel feeded/transmisi yang besar, untuk memperkecil daya yang hilang di kabel (attenuation). Semakin besar diameter kabel, semakin kecil daya yang hilang dengan panjang kabel yang sama. Untuk kabel feeder/transmisi yang saya gunakan adalah RG-8.
  • Pasang antena setinggi mungkin. Antena VHF seperti antena pemancar lainnya berfungsi sangat baik apabila berada di ruang bebas tanpa halangan. Antena VHF yang saya gunakan dipasang setinggi 9 meter dari permukaan tanah. Gunakan balkon atau teras rumah.
  • Pastikan setting SWR yang rendah. Antena yang matching, dengan SWR yang rendah sesuai frekuensi yang digunakan memastikan bahwa seluruh daya yang sampai ke antena akan terpancar.
Antena VHF 2 meter diujung tiang antena setinggi 6 meter. Tinggi total antena dari tanah sekitar 9-10 meter

Dengan melakukan hal-hal diatas maka pancaran radio akan jauh menjadi lebih luas. Seperti contoh yang saya lakukan, dengan 5 watt pancaran cukup kuat untuk membuka Radio Pancar Ulang sejauh 23 km lebih.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan suatu catatan, bahwa memang ada batasan-batasn operasional dimana tambahan daya pancar menjadi satu-satunya pilihan. Seperti di mobil misalnya, tidak mungkin memasang antena setinggi 10 meter, atau menggunakan kabel RG8 yang kaku. Oleh karena itu, penambahan daya pancar memang jadi hal penting untuk meningkatkan jangkauan pancaran. Tapi setidaknya, coba untuk melakukan optimalisasi sistem lainnya, karena daya pancar besar juga datang dengan kebutuhan lainnya yang tidak lebih sederhana

73 de YD0SPU

Istilah-istilah dalam Radio Amatir

Sebagai anak bawang di dunia radio amatir, dengan ijin yang baru berusia hampir 3 bulan, banyak istilah-istilah yang baru dan cukup membingungkan ketika saya berkomunikasi dengan sesama penggiat Radio Amatir.

Untuk membantu anak bawang lainnya di dunia radio amatir, berikut saya coba bagikan istilah-istilah yang sering digunakan, berikut artinya.

  • OM = Old Man. Istilah ini adalah panggilan untuk penggiat radio amatir pria, terlepas dari usia dari orang tersebut. OM ini ditulis dengan huruf besar, satu huruf O dan satu huruf M. Jadi bukan ditulis Oom ya, karena itu pasangannya tante. Sedangkan pasangan OM adalah di bawah ini
  • YL = Young Lady. Instilah ini adalah panggilan untuk penggiat radio amatir wanita, juga terlepas dari usianya. Istilah XYL terkadang suka digunakan untuk istri dari penggiat radio amatir. Saya sendiri tetap menggunakan istilah YL
  • 73 de XXXXXX. Angka 73 ini adalah kode untuk “Best regards”, biasanya digunakan di akhir pembicaraan. Asal dari angka ini adalah dari sederet angka di jaman komunikasi via telegrafi dan morse, sehingga sangat penting untuk mempersingkat kata-kata yang sering digunakan. Saya biasanya membaca Seven Three, atau Tujuh Tiga, bukan Seventy Three atau Tujuh Puluh Tiga.
  • CQ. Ada versi yang mengatakan CQ berasal dari kata Perancis. Tapi saya lebih suka dengan versi bahwa CQ kalau dibaca dalam bahasa Inggris terdengar sebagai “Seek You”. Ini adalah kode untuk memanggil. Bisa juga diikuti dengan callsign yang dipanggil, negara, kode area, dan lain-lain
  • QTH. Ini adalah bagian dari Q-code, lagi-lagi berasal dari jaman komunikasi via telegrafi. QTH ini artinya lokasi memancar
  • QRP. Juga bagian dari Q-code, artinya adalah menurunkan daya pancar. Saat ini sering digunakan untuk radio amatir dengan pancaran daya rendah. Lawannya adalah yang dibawah ini
  • QRO. Q-Code ini artinya menaikkan daya pancar. Saat ini digunakan untuk radio amatir yang menggunakan daya pancar tinggi.
  • QSO. Q-Code ini artinya adalah percakapan dua arah.
  • QSL. Sebagai penutup, Q-code ini adalah yang paling sering digunakan. Kode ini artinya konfirmasi bahwa pertukaran informasi sudah selesai. Biasanya setelah QSL akan diikuti dengan pertukaran QSL Card.

Ada lagi kira-kira istilah radio amatir yang sering digunakan di udara?

73 de YD0SPU