Pertanyaan Seputar FRS/GMRS

Perangkat FRS Merk WLN Tipe KD-C1.

Apa itu FRS/GMRS?

FRS adalah singkatan dari Family Radio Service. GMRS adalah singkatan dari General Mobile Radio Service. Kedua layanan ini adalah kategori untuk penggunaan radio komunikasi bergerak (biasanya HT) yang berasal dari Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, FRS dan GMRS memiliki alokasi frekuensi UHF di sekitar 462 MHz dan 467 MHz. Meskipun memiliki alokasi frekuensi yang sama, layanan FRS dan GMRS memiliki perbedaan sebagai berikut:

  • Penggunaan FRS tidak memerlukan ijin, sedangkan penggunaan GMRS memerlukan ijin. Ijin GMRS bisa didapatkan melalui daring, tanpa memerlukan ujian
  • FRS memiliki daya maksimum lebih kecil daripada GMRS
  • Meskipun sama-sama memiliki alokasi frekuensi di sekitar 462 MHz dan 467 MHz, GMRS memiliki alokasi frekuensi yang lebih besar dari FRS

Bagaimana Perijinan FRS dan GMRS di Indonesia

Menurut peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (PERMEN KOMINFO) nomor 25 tahun 2014, alokasi frekuensi FRS dan GMRS di sekitar 462 MHz dan 467 MHz adalah alokasi untuk penggunaan komersial. Artinya, sebelum kita bisa menggunakan perangkat FRS & GMRS, kita harus lebih dulu memiliki Ijin Spektrum Frekuensi Radio.

Tanpa memiliki ijin ini, maka penggunaan perangkat yang memancar di frekuensi FRS & GMRS adalah ilegal.

Kalau Begitu Kenapa Perangkat FRS/GMRS Masih Dijual Bebas

Secara teori, walaupun penggunaan perangkat pemancar yang memancar di frekuensi FRS & GMRS adalah ilegal, menjual perangkat tersebut belum tentu perbuatan yang ilegal.

Setiap perangkat telekomunikasi yang dijual di Indonesia secara hukum wajib memiliki sertifikasi dari Kementrian KOMINFO. Jadi, kalau perangkat tersebut memiliki sertifikasi dari Kementrian KOMINFO, penjualan perangkat komunikasi tersebut tidak ilegal.

Bagaimana dengan pembelinya? Saat ini tidak ada peraturan yang menyatakan bahwa membeli dan memiliki perangkat telekomunikasi yang memiliki sertifikasi dan dijual secara sah sebagai tindakan ilegal. Jadi, sepertinya siapapun boleh membeli dan memiliki perangkat FRS & GMRS apabila perangkat tersebut memiliki sertifikasi Kementrian KOMINFO. Yang tidak boleh adalah mengoperasikan perangkat tersebut dengan memancar di frekuensi FRS/GMRS

Analoginya, setiap orang bisa membeli mobil tanpa harus memiliki SIM. Tapi mengendarai mobil tanpa memiliki SIM adalah tindakan ilegal.

Menambah Jangkauan Pancaran Radio Komunikasi

“Powernya kurang nih, jadinya pancaran saya gak sampai”

Omongan di atas sering terdengar ketika sebuah pancaran radio gagal diterima di tujuan. Kekurangan power atau daya pancar selalu menjadi kambing hitam kalau sebuah pancaran radio komunikasi gagal diterima oleh lawan bicara.

Eits, tapi sebelum buru-buru meningkatkan daya pancar, coba diperhatikan dulu keseluruhan komponen dari sistem mulai dari radio hingga antena. Apakah keseluruhan sistem ini sudah efisien? Kalau tidak, maka tambahan daya pancar ini hanya akan terbuang sebagai panas, entah di sisi radio, atau antena.

Ketika sedang membuat antena Pot Bunga (Flowerpot) saya sudah membuktikan kalau dengan daya pancar sebesar 5 watt dari HT, pancaran bisa diterima dengan sempurna oleh Radio Pancar Ulang (RPU/Repeater) dengan jarak 18.4 km. Pembuatan antena tersebut bisa ditemukan di tulisan dalam tautan ini.

Dalam QSO selanjutnya, pancaran dengan daya 5 watt bisa menjangkau Radio Pancar Ulang (Repeater) ORARI Jakarta Utara sejauh 23 kilometer dari tempat saya memancar.

Menjangkau Radio Pancar Ulang (RPU) 670, sejauh 23 km dari Pamulang

Jadi, kalau dengan daya pancar hanya 5 watt bisa menjangkau 23 kilometer lebih, tentunya daya pancar yang tinggi bukan satu-satunya cara untuk memperluas daya pancar. Masih ada faktor-faktor lain selain daya pancar untuk memperluas jangkauan pacaran.

Berikut adalah hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk memperluas jangkauan pancar, selain meningkatkan daya pancaran:

  • Gunakan kabel feeder/transmisi dari rig ke antena dengan panjang secukupnya. Semakin panjang kabel feeder/transmisi, semakin banyak daya yang hilang (attenuation) di kabel.
  • Gunakan kabel feeded/transmisi yang besar, untuk memperkecil daya yang hilang di kabel (attenuation). Semakin besar diameter kabel, semakin kecil daya yang hilang dengan panjang kabel yang sama. Untuk kabel feeder/transmisi yang saya gunakan adalah RG-8.
  • Pasang antena setinggi mungkin. Antena VHF seperti antena pemancar lainnya berfungsi sangat baik apabila berada di ruang bebas tanpa halangan. Antena VHF yang saya gunakan dipasang setinggi 9 meter dari permukaan tanah. Gunakan balkon atau teras rumah.
  • Pastikan setting SWR yang rendah. Antena yang matching, dengan SWR yang rendah sesuai frekuensi yang digunakan memastikan bahwa seluruh daya yang sampai ke antena akan terpancar.
Antena VHF 2 meter diujung tiang antena setinggi 6 meter. Tinggi total antena dari tanah sekitar 9-10 meter

Dengan melakukan hal-hal diatas maka pancaran radio akan jauh menjadi lebih luas. Seperti contoh yang saya lakukan, dengan 5 watt pancaran cukup kuat untuk membuka Radio Pancar Ulang sejauh 23 km lebih.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan suatu catatan, bahwa memang ada batasan-batasn operasional dimana tambahan daya pancar menjadi satu-satunya pilihan. Seperti di mobil misalnya, tidak mungkin memasang antena setinggi 10 meter, atau menggunakan kabel RG8 yang kaku. Oleh karena itu, penambahan daya pancar memang jadi hal penting untuk meningkatkan jangkauan pancaran. Tapi setidaknya, coba untuk melakukan optimalisasi sistem lainnya, karena daya pancar besar juga datang dengan kebutuhan lainnya yang tidak lebih sederhana

73 de YD0SPU

Istilah-istilah dalam Radio Amatir

Sebagai anak bawang di dunia radio amatir, dengan ijin yang baru berusia hampir 3 bulan, banyak istilah-istilah yang baru dan cukup membingungkan ketika saya berkomunikasi dengan sesama penggiat Radio Amatir.

Untuk membantu anak bawang lainnya di dunia radio amatir, berikut saya coba bagikan istilah-istilah yang sering digunakan, berikut artinya.

  • OM = Old Man. Istilah ini adalah panggilan untuk penggiat radio amatir pria, terlepas dari usia dari orang tersebut. OM ini ditulis dengan huruf besar, satu huruf O dan satu huruf M. Jadi bukan ditulis Oom ya, karena itu pasangannya tante. Sedangkan pasangan OM adalah di bawah ini
  • YL = Young Lady. Instilah ini adalah panggilan untuk penggiat radio amatir wanita, juga terlepas dari usianya. Istilah XYL terkadang suka digunakan untuk istri dari penggiat radio amatir. Saya sendiri tetap menggunakan istilah YL
  • 73 de XXXXXX. Angka 73 ini adalah kode untuk “Best regards”, biasanya digunakan di akhir pembicaraan. Asal dari angka ini adalah dari sederet angka di jaman komunikasi via telegrafi dan morse, sehingga sangat penting untuk mempersingkat kata-kata yang sering digunakan. Saya biasanya membaca Seven Three, atau Tujuh Tiga, bukan Seventy Three atau Tujuh Puluh Tiga.
  • CQ. Ada versi yang mengatakan CQ berasal dari kata Perancis. Tapi saya lebih suka dengan versi bahwa CQ kalau dibaca dalam bahasa Inggris terdengar sebagai “Seek You”. Ini adalah kode untuk memanggil. Bisa juga diikuti dengan callsign yang dipanggil, negara, kode area, dan lain-lain
  • QTH. Ini adalah bagian dari Q-code, lagi-lagi berasal dari jaman komunikasi via telegrafi. QTH ini artinya lokasi memancar
  • QRP. Juga bagian dari Q-code, artinya adalah menurunkan daya pancar. Saat ini sering digunakan untuk radio amatir dengan pancaran daya rendah. Lawannya adalah yang dibawah ini
  • QRO. Q-Code ini artinya menaikkan daya pancar. Saat ini digunakan untuk radio amatir yang menggunakan daya pancar tinggi.
  • QSO. Q-Code ini artinya adalah percakapan dua arah.
  • QSL. Sebagai penutup, Q-code ini adalah yang paling sering digunakan. Kode ini artinya konfirmasi bahwa pertukaran informasi sudah selesai. Biasanya setelah QSL akan diikuti dengan pertukaran QSL Card.

Ada lagi kira-kira istilah radio amatir yang sering digunakan di udara?

73 de YD0SPU

Mengenal Istilah Radio Komunikasi

Komunikasi melalui radio komunikasi dengan melalui radio pancar ulang (repeater) bisa memperpanjang jangkauan komunikasi kita. Namun terkadang istilah yang digunakan untuk setting radio komunikasi supaya bisa menggunakan radio pancar ulang bisa jadi cukup membingungkan untuk pemula.

Terkadang, informasi setting untuk komunikasi diberikan cukup singkat, seperti contoh dibawah ini:

“Frekuensi 694, duplex -600, tone 88.5”

Informasi yang singkat itu sebenarnya sudah berisi informasi lengkap untuk setting komunikasi melalui radio pancar ulang. Ada 3 informasi yang dibutuhkan untuk setting radio komunikasi supaya bisa berkomunikasi melalui radio pancar ulang, yaitu frekuensi penerimaan (Rx), frekuensi pemancar (Tx) dan tone. Dan ketiga informasi tersebut sudah terangkum dalam kalimat diatas.

Sekarang mari kita telaah satu-satu istilah-istilah frekuensi pemancar, penerimaan dan tone, serta bagaimana menentukan angka yang tepat untuk ketiga informasi diatas.

Frekuensi Penerimaan (Receive/Rx)

Angka pertama yang harus kita tentukan adalah frekuensi penerimaan, atau sering disingkat dengan Rx. Frekuensi ini adalah frekuensi yang dipancarkan oleh repeater, dan diterima oleh perangkat radio komunikasi kita. Pada kebanyakan radio komunikasi, frekuensi ini tinggal langsung dimasukkan melalui keypad.

Dalam contoh diatas, angka frekuensi penerimaan ini adalah angka yang disebutkan setelah kata frekuensi, yaitu 694.

Frekuensi 694, duplex -600, tone 88.5″

Lalu, frekuensi berapakah itu 694? Dalam dunia radio amatir, frekuensi 694 itu adalah 146.940 MHz. Frekuensi radio amatir di VHF adalah antara 144.000-148.000. Karena dua digit pertama selalu 14, maka digit yang disebutkan adalah mulai digit ketiga. Dengan demikian, frekuensi 694 menjadi 146.940 MHz.

Frekuensi Pemancar (Transmit/Tx)

Kebanyakan radio pancar ulang (repeater) beroperasi dalam mode duplex. Artinya, selagi seorang operator radio sedang berbicara, maka operator radio lainnya bisa mendegarkan secara bersamaan. Untuk itu diperlukan frekuensi yang berbeda antara frekuensi untuk pemancar dan penerima.

Frekuensi pemancar (Tx) ini adalah frekuensi yang harus dipancarkan oleh pesawat radio kita ketika kita berbicara. Kebanyakan radio komunikasi modern otomatis memindahkan frekuensi radio ke frekuensi pemancar ketika tombol PTT ditekan. Frekuensi pemancar ini bisa ditentukan dengan menggunakan duplex.

“Frekuensi 694, duplex -600, tone 88.5″

Dari contoh diatas, duplex -600 artinya frekuensi pemancar ada di 600 KHz (atau 0.6 MHz) dibawah frekuensi penerimaan. Dalam contoh diatas, frekuensi penerimaan (Rx) adalah 146.940 MHz. Dengan demikian, frekuensi pemancaran kita adalah:

146.940 MHz - 0.6 MHz = 146.340 MHz

Cara memasukkan frekuensi pemancaran (Tx) ini berbeda pada setiap merk radio komunikasi. Dalam HT Baofeng misalnya, duplex ini dimasukkan dalam 2 menu, yaitu menu untuk frekuensi duplex, dan menu untuk duplex negatif atau duplex positif.

Tone

Angka terakhir yang diperlukan untuk komunikasi melalui repeater adalah tone. Angka ini adalah yang paling mudah ditemukan, yaitu bagian terakhir dari informasi di atas. Tapi, apakah sebenarnya tone ini?

“Frekuensi 694, duplex -600, tone 88.5

Tone adalah sebuah suara yang harus dipancarkan bersama suara kita, agar pancaran kita diterima dan dipancarkan lagi oleh radio pancar ulang/repeater. Frekuensi dari suara tersebut disebut adalah angka dalam setting tone. Dalam contoh di atas, frekuensi suara tersebut adalah 88.5 Hz.

Suara tone ini biasanya akan difilter oleh repeater atau perangkat radio kita, sehingga biasanya tidak akan mengganggu suara kita ketika didengar oleh operator penerima.

Satu lagi tentang tone ini, tidak semua radio pancar ulang/repeater memerlukan tone. Terkadang tone ini digunakan oleh pemilik radio pancar ulang/repeater, supaya repeater tidak memancarkan ulang noise dari lingkungan.

Selamat berkomunikasi di udara. 73 de YD0SPU

Setelah UNAR: Ijin Amatir Radio (IAR) dan KTA Orari

Jadi, setelah mendaftar Ujian Negara Amatir Radio, mengikuti bimbingan ujian yang diadakan oleh ORARI Daerah Jakarta (ODJ), saya akhirnya dinyatakan lulus dan mendapatkan Surat Kecakapan Amatir Radio (SKAR). Dengan sistem online ini hasil SKAR saya terima melalui email kurang dari 24 jam setelah Ujian selesai.

Selanjutnya setelah mendapatkan SKAR, waktunya mengurus Ijin Amatir Radio dan Kartu Tanda Anggota ORARI. Ijin Amatir Radio (IAR) ini semacam Surat Ijin Mengemudi (SIM) untuk kendaraan, tapi bukan dikeluarkan oleh POLDA, melainkan oleh Dirjen SDPPI, Kementrian Komunikasi dan Informatika.  Nah, karena dikeluarkan oleh KEMENKOMINFO, yang juga menyelenggarakan UNAR, saya sempat berharap kalau IAR ini juga akan dikeluarkan secara online. Setelah menunggu 1-2 hari dan cek ke BALMON, ternyata IAR harus diurus melalui ORARI.

Berhubung alamat saya di Jakarta Selatan, maka saya menghubungi ORARI Lokal Jakarta Selatan. Oleh pengurus lokal saya diarahkan langsung ke ORARI Daerah Jakarta (ODJ). Alamat ORARI Daerah Jakarta bisa dicari di google map. Jam kerja ORARI Daerah Jakarta adalah Senin – Jum’at, dari jam 2 siang hingga 9 malam.

Persyaratan yang harus dibawa pada saat pengurusan IAR dan Kartu Tanda Anggota (KTA) ORARI untuk anggota baru tingkat siaga:

  1. Foto 3×4 sebanyak 6 buah, dengan latar belakang merah
  2. KTP asli atau fotocopy
  3. Surat Kecakapan Amatir Radio (SKAR)
  4. Membayar uang iuran untuk IARU, ORARI dan KEMENKOMINFO, seragam dan papan callsign, total sebesar Rp. 695.000

Di ODJ saya dibantu oleh Mbak Ros. Setelah menandatangani beberapa formulir, saya pun mendapatkan callsign YD0SPU. Belum resmi, karena IAR dan KTA masih belum jadi. “Mudah-mudahan akhir Oktober bisa jadi ya”, kata Mbak Ros.

Sampai jumpa di udara……..

Daftar Ujian Negara Amatir Radio (UNAR) Online

Beberapa bulan yang lalu, saya dapat kabar kalau ORARI Daerah Jakarta (ODJ) berencana mengadakan Ujian Negara Amatir Radio (UNAR) tanggal 5 Agustus 2018. UNAR ini adalah salah satu persyaratan untuk mendapatkan Ijin Amatir Radio (IAR), sebuah ijin untuk mengoperasikan perangkat radio di frekuensi radio amatir.

Setelah menelpon ke ORARI Daerah Jakarta untuk syarat-syarat ikut ujian, ternyata dapat kabar kalau pendaftaran UNAR sekarang diurus langsung oleh Balai Monitor Dirjen SDPPI (BALMON). Dari website Dirjen SDPPI saya mendapatkan nomor telepon BALMON Jakarta. Saya disambungkan dengan Bapak Seno yang bertanggung jawab untuk pengurusan UNAR dan IAR.

Pak Seno menjelaskan kalau sekarang pendaftaran UNAR sudah bisa dilakukan secara online. Puji Tuhan, karena kalau harus ke BALMON, jaraknya cukup jauh. Berikut penjelasan dari Pak Seno tentang cara pendaftaran UNAR online:

  1. Syaratnya adalah memiliki alamat surel (email), softcopy pasfoto dengan latar belakang berwarna merah, dan softcopy KTP.
  2. Mendaftar melalui website: http://iar-ikrap.postel.go.id/
  3. Biaya pendaftaran sebesar Rp. 50.000, dibayarkan dengan cara transfer ke nomor rekening yang didapat setelah mendaftar melalui website diatas.
  4. Jadwal UNAR di Jakarta adalah tanggal 5 Agustus 2018.

Rencana pendaftaran UNAR dan pengurusan IAR secara online memang sudah diwacanakan sejak lama. Dan apabila pendaftaran UNAR dan IAR sudah bisa dilakukan secara online, semoga hal ini bisa membawa kemajuan untuk radio amatir Indonesia.

Nanti malam saya akan mencoba website tersebut untuk ikut UNAR. Nantikan update selanjutnya.

Catatan: Tulisan ini sudah diperbaharui tanggal 29 Mei 2019. Panduan pendaftaran UNAR 2019 sudah ditulis dalam tautan ini. Mohon pertanyaan dan komentar bisa diberikan di tulisan yang baru.